Hukum Iman

Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan hukum iman! (diterjemahkan dari KJV) (Roma 3:27)

Iman, adalah istilah yang sangat sering kita dengar, tetapi banyak anak Tuhan yang kesulitan untuk mengaplikasikan iman dalam hidupnya. Salah satu tolok ukurnya adalah 1 Yoh 5:4, “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (1 Yoh 5:4, ITB)

Firman ini jelas menuliskan bahwa jika kita menggunakan iman secara maksimal, maka kita akan mengalahkan dunia. Banyaknya anak Tuhan yang tidak berhasil mengalahkan dunia, menunjukkan bahwa banyak anak Tuhan yang tidak mengerti cara menggunakan iman yang mereka miliki. Dan beberapa bahkan tidak menyadari bahwa mereka memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung.

Banyak konsep yang salah tentang iman, dan salah satunya dapat kita baca pada kisah perempuan yang sakit pendarahan di Mrk 5:24-34. Di sana diceritakan bahwa banyak orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus dan berdesak-desakan di dekat Yesus, tetapi hanya satu yang menerima kesembuhan.

Mengapa orang banyak itu berbondong-bondong mengikuti dan berdesak-desakan dekat Yesus? Karena mereka semua mempunyai kebutuhan, entah untuk disembuhkan atau kebutuhan yang lain dan mereka semua percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan. Pada jaman itu, untuk mengikuti Yesus, artinya harus siap bayar harga, siap dikucilkan dari lingkungan, dari keluarga bahkan dari tokoh agama orang Yahudi, karena Yesus dianggap sebagai pengajar sesat yang bertentangan dengan ajaran agama Yahudi.

Tetapi orang banyak yang mempunyai kebutuhan, mereka juga percaya bahwa Yesus sanggup menyelesaikan masalah mereka dan mereka juga rela dikucilkan karena Yesus, sama sekali tidak membuat kuasa mengalir dari Yesus. Jadi bisa disimpulkan bahwa, kebutuhan mereka, kepercayaan bahwa Yesus sanggup dan rela bayar harga untuk datang kepada Yesus, bukan iman yang dapat mengalirkan kuasa Yesus. Singkat kata, jika kita punya kebutuhan dan datang kepada Yesus karena percaya bahwa Yesus sanggup, sama sekali tidak menunjukkan bahwa kita mempunyai iman.

Berbeda sekali dengan perempuan sakit pendarahan yang saat itu juga ikut berdesak-desakan, dia juga punya kebutuhan untuk disembuhkan, dia juga percaya seperti kebanyakan orang lain saat itu. Tetapi yang membedakan adalah karena ia berkata: “Asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh!”. Dan ketika perempuan ini menjamah jubah Yesus, ada kuasa yang mengalir dan dia menjadi sembuh.
Bahkan Yesus tidak mengetahui siapa yang menjamah dia, Yesus bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” (Mrk 5:20). Yesus tidak menentukan / memilih siapa yang akan disembuhkan atau siapa yang tidak disembuhkan. Tetapi hanya orang yang mempunyai iman yang dapat mengalirkan kuasa Yesus dan menjadi sembuh. Yesus berkata “imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mrk 5:34). Yesus tidak mengatakan hal ini kepada orang banyak yang berdesak-desakan mengikuti Yesus, tetapi hanya kepada perempuan ini.

Hari-hari ini, banyak anak-anak Tuhan yang tulus, punya kebutuhan, percaya bahwa Tuhan sanggup menolong mereka, bahkan rela bayar harga untuk mencari Yesus, tetapi tidak menerima mujizat yang diharapkan. Mereka merasa sudah melakukan segala yang diperlukan, tetapi tidak ada kuasa yang mengalir. Bukan karena Tuhan menahan berkat-Nya atau mujizat-Nya, tetapi karena banyak anak Tuhan yang punya persepsi yang salah tentang iman.
Dalam Roma 3:27, disebutkan bahwa dasar kita bermegah adalah berdasarkan hukum iman (KJV). Jadi iman adalah sebuah hukum.
Apa artinya “hukum”? Hukum adalah sesuatu yang pasti terjadi, jika kita memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Seperti hukum konduktivitas listrik. Listrik sudah ada sejak dunia dijadikan, sejak Adam dan Hawa, tetapi hanya setelah seseorang menemukan cara mengendalikan listrik, kita bisa menikmati peralatan elektronik yang ada sekarang ini. Sebelum hukum listrik dikuasai, orang yang menyentuh listrik bisa mati. Apakah listrik pilih-pilih orang? Tentu tidak! Tetapi hanya orang-orang tertentu yang menguasai hukum listrik-lah yang dapat mengendalikan listrik dan mendapatkan manfaatnya. Jika kita tidak menggunakan kabel yang tepat, listrik tidak akan mengalir ke peralatan elektronik kita, sekalipun kita punya kebutuhan listrik, percaya bahwa Perusahaan Listrik sanggup mengalirkan listrik dan bahkan kita sudah punya kontrak dengan Perusahaan Listrik. Perusahaan listrik tidak pilih-pilih kemana mereka mengalirkan listrik, tetapi hanya orang yang menggunakan kabel yang tepat, maka listrik akan mengalir memberikan daya untuk perangkat elektronik kita.
Demikian juga dengan iman. Iman adalah hukum. Artinya, jika kita menguasai hukum iman, cara kerja iman, bagaimana agar iman bekerja dalam hidup kita, kita akan menikmati hasil yang luar biasa. Dengan iman, maka mujizat-mujizat akan terjadi secara natural dan bahkan secara instan. Tidak heran di 1Yoh 5:4 dituliskan bahwa iman kita membawa kita mengalami kemenangan mengalahkan dunia!
Kita akan belajar hukum iman, apa saja yang membuat iman bekerja dan apa saja yang menjadi penghalang sehingga iman tidak bisa bekerja. Bagaimana caranya agar kita memiliki iman yang dapat memindahkan setiap gunung persoalan hidup.
Dengan menerapkan hukum iman, kita akan melihat tanda mujizat terjadi, hal-hal yang kita harapkan, janji-janji Tuhan akan terjadi dalam hidup kita. Amin.

Tuhan Yesus memberkati