031-5963367

Sekalipun tampaknya sudah umum terjadi, harusnya di usia perkembangan anak 5 tahun ke atas tidak lagi mengalami masalah mengompol.

Laporan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa setidaknya 20% dari siswa kelas 1 SD mengalami problem ini dan 4% diantaranya mengompol sedikitnya 2 kali per minggu, dengan perbandingan anak laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.

Sementara itu di negara kita belum memiliki data tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi termasuk di antaranya mudah terbangun di malam hari, sering kencing di malam hari, infeksi dan sembelit yang menyebabkan berkurangnya kapasitas kandung kemih di waktu malam.

Kondisi yang Memicu Problem Mengompol:

  • Gangguan pernafasan saat tidur
  • Infeksi kandung kemih
  • Sumbatan saluran kemih
  • Gangguan syaraf kandung kemih
  • Kencing manis
  • Diabetes insipidus (kelainan akibat kurangnya hormon pengendali kencing)
  • Sembelit
  • Epilepsi
  • Stres psikis, kekerasan seksual
  • Obat-obatan untuk depresi, epilepsi, dan gangguan jiwa
Evaluasi:

Karena tidak cukup minum terutama pada saat jam sekolah dan menjelang sore hari dan kemudian si anak pulang dengan kehausan, akibatnya untuk memenuhi kebutuhan cairannya, ia banyak minum saat senja dan malam hari. Pola inilah yang membuat sering kencing di malam hari. Oleh sebab itu, catatan tentang beberapa hal dari sang anak akan membantu proses evaluasi problem mengompolnya dan catatan ini perlu dibuat selama 2-4 minggu. Selain fisik, faktor psikis juga berperan karena mengompol yang terjadi sekali sebulan biasanya disebabkan karena si anak merasa harga dirinya kurang.

Aspek Penting dari Riwayat dan Pemeriksaan Fisik Problem Mengompol:

  • Mendengkur sehingga mudah terjaga
  • Celana dalam atau sprei yang basah
  • Sering kencing di malam hari
  • Kebelet atau tergesa-gesa kencing
  • Mengompol di siang hari
  • Aliran kencing yang abnormal
  • Volume urin yang banyak saat pertama di pagi hari, meskipun telah mengompol
  • Minum yang terlalu sedikit, kehausan saat akhir jam sekolah, waktu minum paling sering saat senja dan malam hari
  • Tanda dari kencing manis dan diabetes insipidus seperti haus dan banyak kencing
  • Infeksi kandung kemih
  • Kerusakan atau tiadanya kekuatan otot lubang dubur dan kelainan tulang punggung bisa menyebabkan gangguan syaraf kandung kemih
  • Sembelit ataupun tidak dapat menahan berak
  • Kontur tinja yang keras di perut

Pemeriksaan penunjang seperti tes urin dilakukan untuk mencari kemungkinan infeksi atau kencing manis, selain itu, berat jenis urin yang tinggi di sore hari mengindikasikan bahwa anak kurang minum sebelumnya dan untuk memperkirakan kapasitas kandung kemih dapat dilakukan pemeriksaan USG.

Terapi Perilaku

Tujuan penanganan ini ialah tercapainya kebiasaan buang air kecil yang baik dan kondisi kandung kemih yang optimal dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Biasakan si kecil kencing tiap pagi (saat bangun tidur, setelah sarapan, atau sebelum sekolah). Cukup efektif untuk menghindarkan rasa kebelet dan mengompol di siang hari
  2. Dorong anak untuk tidak menahan kencing terlalu lama; motivasi agar kencing setidaknya setiap 2 jam atau beberapa kali saat di sekolah dan fasilitasikan hal ini ke gurunya
  3. Biasakan dia untuk cukup minum sepanjang pagi dan siang, minimal total kebutuhan cairannya adalah 30 mL per kilogram berat badan (bila berat badannya 20 kg, setidaknya minum 3 gelas)
  4. Kurangi asupan cairan setelah makan malam, kecuali bila ada kegiatan olah raga dan sejenisnya di malam hari
  5. Bantu dia untuk merelaksasikan otot dasar panggulnya pada saat buang hajat, contoh saat buang air besar kedua tungkai kaki harus terbuka dan sebaiknya sampai menapak rata di lantai (bila perlu pakai bantalan tambahan). Motivasi dia untuk tidak terburu-buru ataupun mengedan
  6. Latih otot dasar panggulnya, dengan cara: setiap kencing ajarkan ia untuk berhenti sebentar dan melanjutkan kembali alirannya secara bergantian
  7. Perbanyak serat dalam makanan dan minumannya guna memperlunak tinja
  8. Hindari minuman kola yang bisa meningkatkan pembentukan urin
  9. Motivasi anak agar sering beraktifitas fisik daripada kegiatan yang membuatnya duduk lebih lama di depan TV atau komputer
  10. Berikan penghargaan tiap kali ia berhasil melalui malam tanpa mengompol

Terapi perilaku ini membutuhkan tindakan lanjutan selama 1-3 bulan karena itu keberhasilannya bergantung pada dukungan orangtua, dan tentu, motivasi serta kesabaran si anak.

Alarm

Dari penelitian dengan metode terapi alarm ini menunjukkan keberhasilan yang mencapai dua pertiga dari total keseluruhan 3257 anak. Berikut prakteknya:

  1. Catat waktu di saat ia mengompol
  2. Hari berikutnya, bangunkan ia pada waktu tersebut dengan menggunakan alarm atau dengan panggilan untuk segera buang air kecil
  3. Dikatakan berhasil bila berjalan 2 minggu berturut-turut dan sebaiknya diteruskan untuk 2 minggu lagi

Memang diperlukan motivasi kuat dalam berpartisipasi, terlebih dalam minggu pertama
terapi alarm ini.

Obat-obatan

Bila dengan metode di atas belum berhasil maka perlu dipertimbangkan pemakaian obat dan yang dipakai sebagai lini pertama ialah desmopressin namun sayang masih belum beredar di Indonesia. Lini berikutnya, golongan obat seperti tolterodine yang bekerja meningkatkan kapasitas kandung kemih dan mengurangi keaktifan otot-otot kemih. Obat golongan trisiklik seperti imipramine digunakan sebagai lini terakhir pengobatan bila terapi lain tidak efektif.

 

Sebagai kesimpulannya, problem mengompol ini sebaiknya ditelaah dari beberapa segi yang mendasarinya dan untuk mengatasi selain motivasi dari anak, perlu juga dipadankan dengan ketelatenan orangtua dan pihak dokter yang membantu dalam penanganan secara holistik. Semoga berhasil.